K3 : Faktor Bahaya Lingkungan Kerja

0
189

Bahaya di lingkungan kerja dapat didefinisikan sebagai segala kondisi yang bisa memberi dampak yang merugikan terhadap kesehatan atau kesejahteraan orang yang bekerja. Faktor bahaya di lingkungan kerja mencakup faktor Kimia, Biologi, Fisika, Fisiologi dan Psikologi.

1. Bahaya kimia

Jalan masuk bahan kimia kedalam tubuh : Pernafasan (inhalation), Kulit (skin absorption), Tertelan (ingestion). Racun dapat mengakibatkan efek yang bersifat akut, kritis atau kedua-duanya.

  • Korosi : Bahan kimia yang bersifat korosif mengakibatkan kerusakan pada permukaan tempat di mana terjadi kontak. Kulit, mata dan sistem pencernaan yaitu bagain tubuh yang paling umum terkena. Contoh : konsentrat asam dan basa, fosfor.
  • Iritasi : iritasi mengakibatkan peradangan pada permukaan ditempat kontak. Iritasi kulit bisa mengakibatkan reaksi seperti eksim atau dermatitis. Iritasi pada alat-alat pernafasan yang hebat dapat mengakibatkan sesak napas, peradangan dan oedema (bengkak). Contoh : Kulit : asam, basa, pelarut, minyak. Dan pernafasan : aldehydes, alkaline dusts, amonia, nitrogen dioxide, phosgene, chlorine, bromine, ozone.
  • Kanker : Karsinogen pada manusia yaitu bahan kimia yang secara jelas sudah terbukti pada manusia. Kemungkinan karsinogen pada manusia yaitu bahan kimia yang secara jelas telah terbukti mengakibatkan kanker pada hewan. Contoh :

Terbukti karsinogen pada manusia : benzene (leukaemia) ; vinylchloride (liver angiosarcoma) ; 2-naphthylamine, benzidine (kanker kandung kemih) ; asbestos (kanker paru-paru, mesothelioma) ;

  • Kemungkinan karsinogen pada manusia : formaldehyde, carbon tetrachloride, dichromates, beryllium.
  • Racun Sistemik : Racun sistemik yaitu agen-agen yang mengakibatkan luka pada organ atau sistem tubuh. Contoh :
  • Otak : pelarut, lead, mercury, manganese
  • Sistem syaraf peripheral : n-hexane, lead, arsenic, carbon disulphide
  • Sistem pembentukan darah : benzene, ethylene glycol ethers
  • Ginjal : cadmium, lead, mercury, chlorinated hydrocarbons
  • Paru-paru : silica, asbestos, debu batubara (pneumoconiosis).

2. Bahaya Biologi

Bahaya biologi dapat didefinisikan sebagai debu organik yang berasal dari sumber-sumber biologi yang berbeda seperti virus, bakteri, jamur, protein dari binatang atau bahan-bahan dari tumbuhan seperti produk serat alam yang terdegradasi. Bahaya biologi dapat dibagi menjadi dua yakni yang mengakibatkan infeksi dan non-infeksi. Bahaya dari yang bersifat non infeksi dapat dibagi lagi menjadi organisme viable, racun biogenik dan alergi biogenik.

  • Organisme viable dan racun biogenic
    Organisme viable termasuk di dalamnya jamur, spora dan mycotoxins ; Racun biogenik termasuk endotoxins, aflatoxin dan bakteri. Perkembangan produk bakterial dan jamur dipengaruhi oleh suhu, kelembaban dan media di mana mereka tumbuh. Pekerja yang beresiko : pekerja pada silo bahan pangan, pekerja pada sewage & sludge treatment, dll. Contoh : Byssinosis, “grain fever”, Legionnaire’s disease.
  • Alergi Bionik
    Termasuk didalamnya yaitu : jamur, animal-derived protein, enzim. Bahan alergen dari pertanian berasal dari protein pada kulit binatang, rambut dari bulu dan protein dari urine dan feaces binatang. Bahan-bahan alergen pada industri berasal dari sistem fermentasi, pembuatan obat, bakery, kertas, sistem pengolahan kayu, juga didapati di bioteknologi (enzim, vaksin dan kultur jaringan). Pada orang yang sensitif, pemajanan alergen dapat menyebabkan gejala alergi seperti rinitis, conjunctivitis atau asma. Contoh : Occupational asthma : wool, bulu, butir gandum, tepung bawang dll.
  • Bahaya Infeksi
    Penyakit akibat kerja karena infeksi relatif tidak umum didapati. Pekerja yang potensial mengalaminya yakni pekerja dirumah sakit, laboratorium, jurumasak, penjaga binatang, dokter hewan dan lain-lain. Contoh : Hepatitis B, tuberculosis, anthrax, brucella, tetanus, salmonella, chlamydia, psittaci.

3. Bahaya Fisik

Bahaya fisik yakni potensi bahaya yang bisa mengakibatkan sebagian gangguan kesehatan terhadap tenaga kerja yang terpapar, misalnya : terkena kebisingan intensitas tinggi, suhu ekstrim (panas & dingin), intensitas penerangan kurang memadai, getaran, radiasi.

  • Kebisingan
    Kebisingan dapat disimpulkan sebagai segala bunyi yang tidak dikehendaki yang bisa memberi dampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan seseorang ataupun suatu populasi. Faktor yang terkait dengan kebisingan diantaranya : jumlah energi bunyi, distribusi frekwensi, dan lama pajanan. Kebisingan dapat menghasilkan efek akut seperti masalah komunikasi, turunnya konsentrasi, yang pada akhirnya mengganggu job performance tenaga kerja. Pajanan kebisingan yang tinggi (biasanya 85 dBA) pada jangka waktu tertentu dapat mengakibatkan tuli yang bersifat sementara ataupun kronis. Tuli permanen yaitu penyakit akibat kerja yang paling banyak di klaim. Contoh : Pengolahan kayu, tekstil, metal, dan lain-lain.
  • Getaran
    Getaran memiliki parameter yang hampir sama dengan bising seperti : frekwensi, amplitudo, lama pajanan dan apakah karakter getaran terus menerus atau intermitten. Cara kerja dan keterampilan memegang peranan penting dalam memberikan efek yang berbahaya. Pekerjaan manual menggunakan “powered tool” berasosiasi dengan gejala gangguan peredaran darah yang di kenal sebagai ”Raynaud’s phenomenon” atau ”vibration-induced white fingers” (VWF). Perlengkapan yang menyebabkan getaran bisa juga memberi efek negatif pada sistem saraf dan sistem musculo-skeletal dengan mengurangi kekuatan cengkram dan sakit tulang belakang. Contoh : Loaders, forklift truck, pneumatic tools, chain saws.
  • Pencahayaan
    a) Tujuan pencahayaan : Memberi kenyamanan dan efisiensi dalam melaksanakan pekerjaan dan memberi lingkungan kerja yang aman.
    b) Efek pencahayaan yang buruk : mata tidak nyaman, mata lelah, sakit kepala, berkurangnya kemampuan melihat, dan mengakibatkan kecelakaan.
    c) Keuntungan pencahayaan yang baik : meningkatkan semangat kerja, produktivitas, mengurangi kesalahan, meningkatkan housekeeping, kenyamanan lingkungan kerja, mengurangi kecelakaan kerja.

4. Bahaya Psikologi

Bahaya yang berasal atau diakibatkan oleh kondisi beberapa faktor psikologis ketenagakerjaan yang kurang baik atau kurang mendapatkan perhatian seperti : peletakan tenaga kerja yang tidak sesuai dengan bakat, minat, kepribadian, motivasi, temperamen atau pendidikannya, sistem seleksi dan klasifikasi tenaga kerja yang tidak sesuai, kurangnya ketrampilan tenaga kerja dalam melakukan pekerjaannya sebagai akibat kurangnya latihan kerja yang diperoleh, dan hubungan antara individu yang tidak harmoni dan tidak serasi dalam organisasi kerja. Kesemuanya itu akan mengakibatkan terjadinya stress akibat kerja.

  • Stress yaitu tanggapan tubuh (respon) yang sifatnya non-spesifik terhadap setiap tuntutan atasnya. Pada saat tuntutan terhadap tubuh itu berlebihan, maka hal semacam ini dinamakan stress.
  • Gangguan emosional yang di timbulkan : cemas, gelisah, gangguan kepribadian, penyimpangan seksual, ketagihan alkohol dan psikotropika.
  • Penyakit-penyakit psikosomatis diantaranya : jantung koroner, tekanan darah tinggi, gangguan pencernaan, luka usus besar, gangguan pernafasan, asma bronkial, penyakit kulit seperti eksim, dan lain-lain.

5. Bahaya Fisiologi

Potensi bahaya yang berasal atau yang disebabkan oleh penerapan ergonomi yg tidak baik atau tidak sesuai dengan bebrapa norma ergonomi yang berlaku, dalam melakukan pekerjaan dan perlengkapan kerja, termasuk : sikap dan cara kerja yang tidak sesuai, pengaturan kerja yang tidak tepat, beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan pekerja maupun ketidakserasian antara manusia dan mesin.

Pembebanan Kerja Fisik

  • Beban kerja fisik untuk pekerja kasar perlu memerhatikan kondisi iklim, sosial ekonomi dan derajat kesehatan.
  • Pembebanan tidak melebihi 30 – 40% dari kemampuan kerja maksimum tenaga kerja dalam jangka waktu 8 jam sehari.
  • Berdasarkan hasil beberapa observasi, beban untuk tenaga Indonesia yaitu 40 kg. Apabila mengangkat dan mengangkut ditangani lebih dari sekali maka beban maksimum itu harus disesuaikan.
  • Oleh karena penetapan kemampuan kerja maksimum sangat sulit, parameter praktis yang digunakan yaitu pengukuran denyut nadi yang diusahakan tidak melebihi 30-40 permenit diatas denyut nadi sebelum bekerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here