Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) pada Housekeeping, Front Office, dan Food and Beverage Department

0
369

Karyawan atau tenaga kerja merupakan subjek faktor produksi yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan bisnis dalam beragam aktivitas industri. Bahkan berhasil tidaknya suatu bisnis, efektif dan efisien tidaknya suatu bisnis, ditentukan oleh sumber daya manusia yang berperan serta dalam bisnis tersebut. Karenanya, sumber daya manusia harus memperoleh perhatian dengan saksama, agar mereka dapat memberikan peran yang maksimal dalam pekerjaan mereka. Bentuk perlakuan itu diantaranya kesehatan dan keselamatan kerja para karyawan selama mereka melakukan tugas kekaryaannya. Secara langsung ataupun tidak, perlakuan keselamatan dan kesehatan kerja berpengaruh pada produktivitas karyawan yang berkaitan.

Karyawan atau tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang memiliki peranan penting dalam usaha mendukung operasi suatu perusahaan dalam mencapai tujuannya. Tanpa faktor manusia, suatu operasi perusahaan mustahil dilakukan. Artinya, faktor manusia merupakan unsur penting. Tanpa tenaga manusia mustahil berbagai aktivitas dalam suatu perusahaan dapat berjalan dengan baik. Interaksi antara tenaga manusia atas faktor produksi lainnya, seperti mesin, perlengkapan produksi lain, bahan baku, tenaga listrik, dsb yang memungkinkan berjalannya sistem produksi. Oleh karenanya, dalam suatu kegiatan produksi selalu terjadi interaksi manusia dengan
faktor produksi lainnya.

Kecelakaan kerja yaitu kecelakaan yang menimpa manusia yang dikarenakan oleh faktor produksi mesin, bahan baku, tenaga listrik, lingkungan, dan oleh faktor yang lain. Pada umumnya, arti kecelakaan kerja yaitu suatu kejadian musibah yang menimpa dan menyebabkan penderitaan untuk tenaga kerja karena adanya interaksi yang tidak seimbang dengan faktor produksi lain dalam suatu operasi perusahaan. Pemerintah dalam hal semacam ini Departemen Tenaga kerja Republik Indonesia mendeskripsikan kecelakaan tenaga kerja sebagai suatu peristiwa yang mendadak atau yang tidak disangka-sangka dan tidak terjadi dengan sendirinya, namun ada pemicunya.

Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Kerja (K2TK) harus direncanakan secara cermat sejak bangunan fisik (plant layout) didirikan. Setelah direncanakan, pastinya harus dikerjakan sebagai bagian dari kebijakan perusahaan. Sebagai bagian dari kebijakan perusahaan, berarti K2TK harus secara cermat dan terus-menerus dilaksanakan dalam mendukung operasi perusahaan.

Keselamatan dan kesehatan kerja erat kaitannya dengan keamanan dan kenyamanan tenaga kerja. Dengan hal tersebut, erat hubungannya dengan kemanusiaan. Ditinjau dari segi tenaga kerjanya, K2TK harus merupakan bagian dari manajemen sumber daya manusia dalam perusahaan. Tetapi, dari faktor tempat dan jenis pekerjaan K2TK berkaitan erat juga dengan manajemen yang lain seperti : manajemen produksi dan manajemen keuangan. Dengan hal tersebut, faktor K2TK merupakan bagian integral dari keselamatan operasi perusahaan yang didukung oleh sebuah manajemen dan pemilik perusahaan.

Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja pada umumnya meliputi suasana dan lingkungan kerja yang menanggung kesehatan dan keselamatan karyawan agar tugas pekerjaan perusahaan dapat berjalan lancar. Arti kesehatan dan keselamatan kerja yaitu :

  1. Menciptakan suasana dan lingkungan kerja.
    Kondisi fisik gedung dan segala perlengkapan yang dimiliki sebagai fasilitas untuk melakukan pekerjaan karyawan. Kondisi nonfisik, seperti suasana hubungan kerja antarsesama karyawan, baik secara horisontal ataupun vertikal. Hubungan horisontal menggambarkan hubungan kerja yang baik antarsesama karyawan yang menduduki posisi yang sama. Hubungan vertikal berarti tercipta hubungan timbal balik yang baik antara bawahan dengan atasan.
  2. Menjamin keselamatan dan kesehatan karyawan, hingga menciptakan rasa aman dari ancaman bahaya yang ditimbulkan oleh beragam sumber bahaya, berbentuk mesin dan seluruh fasilitas produksi, bahan baku, konstruksi bangunan, instalasi listrik, dan perlengkapan lainnya.
  3. Ruangan atau lapangan (space) dimana orang dapat bekerja atau yang sering dimasuki tenaga kerja. Jadi, tempat kerja yaitu ruangan, lapangan, halaman, dan sekelilingnya yang merupakan bagian integral atau hubungan dengan tempat kerja.

Tujuan Kesehatan dan Keselamatan Tenaga Kerja

Tujuan akhir kesehatan dan keselamatan kerja yaitu produktivitas tenaga kerja yang tinggi hingga perusahaan dapat bekerja efektif. Produktivitas tenaga kerja yang tinggi dapat dilakukan apabila tenaga kerja terjamin kesehatan dan keselamatan kerjanya.
Keselamatan kerja banyak dipengaruhi oleh suasana dan kondisi lingkungan kerja dalam perusahaan, misalnya pentingnya penerangan lampu yang memadai, sirkulasi udara yang menjamin kesegaran kerja, lantai yang tidak licin, mesin-mesin, dan sarana produksi yang aman dari bahaya. Sementara itu, kesehatan kerja lebih dititikberatkan pada lingkungan yang mendukung para tenaga kerja terjamin kesehatannya, misalnya ruangan yang bebas debu, ventilasi udara yang baik, bebas dari gas yang membahayakan. Hal semacam ini berkaitan erat dengan kebijakan perusahaan secara keseluruhan. Dalam arti upaya menciptakan suasana dan kondisi kerja yang berkaitan dengan rancang bangun gedung dan keseluruhan fasilitas produksi yang akan digunakan.

Program Kesehatan dan Keselamatan Tenaga Kerja

Perencanaan dan program kesehatan dan keselamatan kerja tenaga kerja merupakan bagian dari manajemen perusahaan dan harus merupakan kebijakan perusahaan, sehingga harus didukung semua pihak, yakni :

  1. Dukungan berbagai lapisan manajemen termasuk manajemen puncak (Top management). Jika ada dukungan dari manajemen puncak maka diharapkan lebih mendapatkan perhatian dari manajemen di bawahnya, hingga program kesehatan dan keselamatan kerja dapat dikerjakan secara efisien.
  2. Secara struktural dapat dibuat suatu unit kerja kesehatan dan keselamatan kerja sebagai bagian dari struktur organisasi perusahaan.
  3. Susunan dan tata letak bangunan dan mesin. Susunan ruangan perusahaan dan susunan tata letak (layout) mesin dan perlengkapan produksi harus bertujuan bukan saja pada efisiensi, namun juga harus menciptakan suasana aman dan nyaman untuk para karyawan. Misalnya, tempat atau ruangan kerja harus cukup terang, bersih, dan ventilasi yang sangat baik. Setiap tempat yang berbahaya harus ditempeli petunjuk atau info yang pasti untuk berhati-hati. Peletakan perlengkapan yang berbahaya harus diletakkan terpisah dari tempat kerja, misalnya gudang.
  4. Program pelatihan dan demonstrasi keselamatan kerja. Pelatihan mengenai kesehatan dan keselamatan kerja harus dilakukan secara intensif, hingga para karyawan jadi terlatih atau profesional dalam menanggulangi kesehatan dan keselamatan kerja.
  5. Analisis kecelakaan kerja. Suatu unit kerja penanggulangan bahaya dan keselamatan kerja sedapat mungkin sering melakukan rapat kerja intern untuk membahas beragam analisis kecelakaan kerja. Artinya, setiap bentuk kecelakaan kerja yang pernah terjadi harus dicatat dan laporan itu disimpan secara baik. Setelah itu, catatan itu dianalisis secara mendalam, misalnya menganalisis bagaimana suatu kecelakaan terjadi, sebagian faktor apa yang menyebabkan kecelakaan kerja itu terjadi, dan mencegah jangan sampai hal itu terulang. Secara umum kecelakaan kerja dapat terjadi karena beragam faktor :

1. Kondisi pekerja sendiri (human factor/human error)
2. Mesin dan alat-alat kerja (machine and tools condition)
3. Kondisi lingkungan kerja (work environment)

Kondisi pekerja sendiri (human error)

Kondisi karyawan mencakup sikap, karakter, dan perilaku karyawan dalam menghadapi pekerjaannya. Ada saatnya sikap, karakter, dan pendidikan memengaruhi cara kerja seseorang. Tetapi, yang ditujukan di sini yaitu beberapa karakter dan perilaku seorang karyawan dalam menghadapi pekerjaannya. Ada karyawan yang berlaku hati-hati dan cermat. Tetapi, ada juga yang bersifat asal-asalan dan tidak sabar. Sebenarnya sudah sejak awal penerimaan karyawan hal semacam ini harus sudah diujikan, agar setiap orang memperoleh

Pekerjaan yang sesuai dengan sifatnya. Misalnya seorang yang cenderung suka kerja malam hari. Jadi, pihak manajemen sejak awal harusnya menempatkan pegawai pada pekerjaan yang tepat sesuai dengan sifatnya. Demikian juga kondisi seorang karyawan yang memiliki suara halus, tampilan menarik, dan murah senyum, baiknya ditempatkan dibagian pemasaran, penerima tamu atau receptionist. Sudah pasti penempatan kerja tetap harus sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki seseorang. Hal semacam ini akan mengurangi kecelakaan kerja yang bisa merugikan perusahaan

Kondisi mesin dan alat-alat kerja (machine & tools condition)

Mesin dan perlengkapan produksi dapat merupakan sumber kecelakaan kerja. Bukan saja beberapa sifat dari mesin dan perlengkapan produksi tersebut, namun tata letak (layout) juga dapat menunjang keselamatan kerja. Misalnya alat kontrol suhu yg tidak berfungsi. Oleh karenanya, pihak manajemen harus memberikan perhatian terhadap kondisi mesin dan perlengkapan dan layout yang baik agar tercapai lingkungan kerja yang aman.

Kondisi lingkungan kerja (work environment)

Lingkungan kerja sangat memengaruhi morale (suasana kerja) para karyawan, baik lingkungan kerja fisik ataupun lingkungan kerja yang bersifat rohani. Dalam hal semacam ini lingkungan kerja fisik yang baik akan mempertinggi produktivitas kerja. Di samping mengurangi kelelahan, yang berarti dapat menambah produksi, sehingga biaya persatuan jadi efektif. Faktor-faktor lingkungan kerja fisik yang perlu memperoleh perhatian, diantaranya :

  1. penerangan cahaya,
  2. ventilasi untuk sirkulasi udara segar, dan
  3. pemeliharaan rumah tangga (housekeeping), misalnya lantai bersih, ruangan wangi, suasana menyenangkan, dan taman yang indah.

Kondisi lingkungan fisik yg tidak baik akan menyebabkan hal yang sebaliknya. Misalnya tata letak ruangan yang terlalu sempit akibat plant lay out yang salah, peletakan perlengkapan kerja yg tidak menyenangkan dan tidak menyebabkan gairah kerja yang baik. Pihak manajemen harus selalu memerhatikan sebagian faktor yang memengaruhi kesehatan dan keselamatan kerja para karyawan. Jika kondisi kesehatan dan keselamatan kerja
karyawan kurang memadai, perlu diperbaiki. Caranya bergantung pada faktor yang memengaruhinya.

Kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh kombinasi antara perilaku manusia, keadaan fisik perusahaan, ataupun oleh mesin dan alat kerja atau alat produksi atau oleh salah satu salah satunya. Perlombaan menciptakan keselamatan kerja dapat dianggap sebagai salah satu bentuk penerangan dan pendidikan karyawan. Proses ketentuan dan disiplin kerja untuk mendukung terwujudnya program kesehatan dan keselamatan kerja kedua belah pihak, yakni perusahaan dan karyawan. Keduanya harus merasa saling memerlukan keduanya. Hal itu akan menumbuhkan rasa aman sehingga karyawan dapat bekerja lebih produktif dan lebih efektif. Demikian halnya perihal perusahaan akan beroperasi secara efektif juga. Harapannya, perusahaan akan berada pada posisi kompetitif yang kuat dalam menghadapi persaingan dan akhirnya memiliki kesempatan meraih keuntungan lebih tinggi.

Langkah Menciptakan Keselamatan dan Memberikan Perawatan yang Tepat

  1. Menciptakan kondisi kerja karyawan yang baik. Hal semacam ini dapat dicapai diantaranya dengan mengadakan pelatihan (job training) sebelum seorang karyawan bekerja. Pelatihan harus jelas dan mudah dipahami agar karyawan dapat cepat menguasai jenis pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabnya.
  2. Menciptakan kondisi mesin dan perlengkapan dengan baik. Tata letak (lay out) mesin dan beragam perlengkapan produksi harus ditata dengan baik agar menunjang kelancaran sistem produksi dan menunjang kesehatan dan keselamatan kerja karyawan. Berikut ini beberapa dasar yang bisa digunakan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan-kecelakaan itu.

Menghindari Terjadinya Luka karena Teriris/Terpotong

Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu di perhatikan untuk menghindari terjadinya luka karena teriris/terpotong seperti berikut.

a. Selalu menggunakan pisau yang tajam. Pisau yang tajam lebih aman dari pada pisau tumpul karena tekanan dan tenaga yang diperlukan ketika digunakan lebih kecil dan tidak mudah selip.
b. Selalu menggunakan alas (telenan) pada saat memotong. Jangan memotong dengan menggunakan alas dari logam. Akan lebih baik jika dibawah telenan diletakkan handuk/kain tebal, agar telenan tidak mudah bergeser/terpeleset.
c. Berkonsentrasi penuh pada saat bekerja dengan pisau atau alat pemotong yang lain, tidak sembrono atau sambil bergurau.
d. Pemotongan dilakukan dengan memerhatikan jarak yang aman, baik untuk diri sendiri ataupun orang lain.
e. Menggunakan pisau hanya untuk pekerjaan pemotongan. Tidak menggunakannya untuk kepentingan lain, misalnya untuk membuka tutup botol.
f. Jika pisau terjatuh, jangan beberapa coba untuk menangkapnya. Biarkan pisau jatuh, dan jaga jarak/menjauh dari tempat jatuhnya pisau.
g. Jangan menyimpan pisau didalam bak cuci, didalam air, atau di tempat-tempat lain sehingga pisau tidak bisa dilihat dengan jelas.
h. Bersihkan pisau dengan hati-hati setelah digunakan, dengan mengarahkan sisi pisau yang tajam menjauh dari tubuh.
i. Jika tidak dipergunakan, taruh pisau ditempat yang aman. Misalnya di rak atau tempat pisau khusus lainnya.
j. Selalu waspada pada saat membawa pisau. Bawalah pisau dibagian samping tubuh, dengan ujung menghadap ke bawah, dan sisi tajam menjauhi tubuh. Akan lebih baik bila membawa pisau dalam sarung atau selubung pisau. Peringatkan beberapa orang di sekitar Anda, bila Anda melalui mereka dengan membawa pisau di tangan.
k. Barang-barang yang mudah pecah, misalnya mangkok, piring, dan perlengkapan gelas lainnya diletakkan ditempat khusus, terpisah dari ruang pengolahan.
l. Jangan meletakkan barang-barang yang mudah pecah didalam bak perendam.
m. Jika ada barang yang pecah, gunakan sapu untuk membersihkan serpihannya. Jangan dibersihkan dengan tangan.
n. Pembuangan pecahan kaca harus pada tempat khusus. Jangan dicampur dengan sampah lainnya.
o. Jika ada barang yang pecah didalam ember atau bak, pengambilan pecahan dilakukan setelah ember atau bak dibuang airnya.
p. Jika membuka karton atau pengemas lain yang ada paku atau isi stapler-nya, maka logam-logam itu dikumpulkan pada wada tertentu dan segera dibuang.
q. Jika teriris atau terluka potong kecil lainnya, segera dirawat dengan obat-obat pertolongan pertama yang memadai untuk mencegah infeksi.

Menghindari Terjadinya Luka Bakar

Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu di perhatikan untuk menghindari terjadinya luka bakar, diantaranya sebagai berikut.
a. Selalu berasumsi kalau panci pemasak dalam kondisi panas, sehingga kita harus menggunakan alas pada saat memegang panci itu.
b. Menggunakan alas/lap kering untuk memegang panci panas. Penggunaan lap basah akan menghasilkan uap panas yang bisa mengakibatkan luka bakar.
c. Pegangan panci pemasak diarahkan menjauhi lorong/tempat lalu lalang, hingga tidak tersenggol orang yang melewatinya. Pegangan panci sebaiknya juga jauh dari sumber api, baik kompor gas ataupun kompor minyak tanah.
d. Pengisian panci pemasak tidak boleh penuh, hingga tidak meluap sewaktu mendidih.
e. Minta pertolongan orang lain jika harus memindahkan wadah berisi makanan panas yang cukup berat.
f. Waspada pada saat membuka panci perebus atau perlengkapan lain yang mengeluarkan uap panas, dan melakukannya dalam jarak yang aman (jarak antara tubuh dengan perlengkapan itu).
g. Jika kompor gas yang digunakan tidak diperlengkapi dengan pemantik automatis, maka klep gas harus ada dalam kondisi tertutup pada saat korek api/sumber api lainnya dinyalakan.
h. Pekerja sebaiknya mengenakan pakaian dengan lengan panjang untuk melindungi diri dari percikan/tumpahan makanan/minyak panas. Alas kaki sebaiknya terbuat dari kulit yang kuat dan tertutup di bagian jari-jarinya.
i. Makanan yang akan digoreng harus ditiriskan terlebih dulu, agar tidak terbentuk percikan minyak panas pada saat digoreng.
j. Selalu memperingatkan orang-orang di sekitar Anda, jika Anda melalui mereka dengan membawa barang-barang yang panas.

Mencegah Terjadinya Kebakaran

Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu di perhatikan untuk menghindari terjadinya kebakaran, diantaranya seperti berikut.
a. Mengetahui tempat penyimpanan dan cara menggunakan alat pemadam kebakaran.
b. Menggunakan jenis bahan pemadam kebakaran yang tepat menurut sumber apinya. Ada tiga jenis penyebab kebakaran yang masingmasing memerlukan bahan pemadam kebakaran yang berbeda juga, yakni seperti berikut.
Klas A yakni sumber kebakaran yang berasal dari kayu, kertas, baju, plastik, dan bahan-bahan mudah terbakar lainnya. Jenis alat pemadam kebakaran jenis ini ditandai dengan simbol A.
Klas B yakni sumber kebakaran yang berasal dari minyak, gemuk (grease), bensin, pelarut organik, dan bahan kimia mudah terbakar lainnya. Jenis alat pemadam kebakaran type ini ditandai dengan simbol (cari di gugel).
Klas C yakni sumber kebakaran yang berasal dari perlengkapan elektrik, kabel-kabel, motor, dsb. Jenis alat pemadam kebakaran jenis ini ditandai dengan simbol (cari di gugel).
c. Jangan memadamkan api yang berasal dari minyak atau perlengkapan listrik dengan menggunakan air, atau pemadam kebakaran klas A, karena hanya akan menyebarkan api.
d. Sediakan garam atau baking soda ditempat yang mudah terjangkau, untuk memadamkan kebakaran dari api kompor atau tungku.
e. Jangan meninggalkan minyak goreng diatas tungku atau kompor menyala tanpa pengawasan.
f. Aktivitas merokok hanya bisa dilakukan pada tempat khusus. Jangan meninggalkan puntung yang masih menyala di sembarang tempat.
g. Bila mendengar alarm tanda bahaya kebakaran dan masih ada waktu, tutup dan matikan semua aliran gas dan listrik, sebelum meninggalkan gedung yang terbakar.
h. Jaga agar pintu keluar darurat tidak terhalang oleh benda apapun.

Mencegah Terjadinya Luka oleh Mesin atau Perlengkapan Lainnya

Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu di perhatikan untuk mencegah terjadinya luka oleh mesin atau perlengkapan lainnya diantaranya seperti berikut. Jangan sekali-kali menggunakan perlengkapan elektrik/mekanik apapun tanpa tahu dengan pasti cara pengoperasiannya. Jangan sekalikali mengambil atau memindahkan makanan dari perlengkapan yang sedang berjalan/beroperasi, baik dengan tangan ataupun dengan perlengkapan lain,

Misalnya sendok atau garpu. Matikan sumber listrik pada perlengkapan, pada Waktu membersihkan atau membongkar perlengkapan itu. Pastikan tombol
mesin ada pada posisi mati (off), sebelum menghidupkan sumber listrik pada perlengkapan. Jangan menyentuh atau menangani perlengkapan elektrik bila tangan dalam kondisi basah, atau bila berada pada lingkungan berair. Gunakan baju yang pas di tubuh, dan hindari baju yang kedodoran/berumbai-umbai, agar tidak tersangkut pada mesin/perlengkapan. Gunakan perlengkapan untuk aktivitas yang memang dikhususkan untuk perlengkapan itu.

Mencegah Luka karena Terjatuh

Beberapa prinsip atau cara kerja yang perlu di perhatikan untuk mencegah luka karena terjatuh diantaranya sebagai berikut. Tumpahan/ceceran air atau makanan di lantai harus segera dibersihkan.

Monitoring Kecelakaan Tenaga kerja

Kecelakaan kerja yang terjadi pada seorang karyawan dapat menimbulkan penderitaan baik secara fisik, mental, ataupun secara sosial. Berdasarkan tingkat penderitaan dan akibat pada pekerjaannya, kecelakaan kerja dapat diklasifikasikan seperti berikut.

  1. Penderitaan total dengan istirahat sementara, yakni kecelakaan yang menyebabkan karyawan tidak bisa bekerja sepenuhnya untuk beberapa hari.
  2. Penderitaan untuk selamanya. Kecelakaan yang menyebabkan cacat berat pada karyawan sehingga tidak mampu melangsungkan pekerjaannya.
  3. Penderitaan sebagian untuk sementara, yakni kecelakaan yang menimpa karyawan secara tetap, namun dapat bekerja kembali.
  4. Kematian, yakni kecelakaan paling dramatis yang menyebabkan kehilangan nyawa.

Mempersiapkan Laporan Kecelakaan dan Santunan Tenaga Kerja

Dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan Tahun 1997 pasal 11, dinyatakan kalau perusahaan diwajibkan untuk memberikan tunjangan atas kecelakaan kerja sebesar yang ditentukan oleh ketentuan yang berlaku. Berkaitan dengan hal itu, pihak manajemen perusahaan harus mempunyai fasilitas dan dana untuk membayar kompensasi itu. Untuk kepentingan ini seharusnya seluruh tenaga kerja diasuransikan melalui Astek (Asuransi Tenaga Kerja). Kewajiban manajemen dalam menghadapi kecelakaan kerja yaitu membantu penderita dengan memberikan pengobatan dan santunan. Sedapat mungkin karyawan yang mengalami kecelakaan dapat pulih untuk melanjutkan tugas pekerjaannya. Santunan dan bantuan harus diberikan tanpa memerhatikan penyebab kecelakaan kerja, misalnya meskipun kecelakaan kerja disebabkan oleh kelalaian karyawan yang berkaitan, namun pertolongan dan pemberian santunan dan biaya pengobatan tetap diberikan oleh perusahaan. Berarti kalau santunan kecelakaan kerja merupakan biaya perusahaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here